Translate

Sabtu, 19 Mei 2012

Huruf Hieroglif

Hieroglif Mesir

Hieroglif Mesir (pengucapan /ˈhaɪərəʊɡlɪf/; dari Yunani ἱερογλύφος "ukiran suci", dalam Bahasa Inggris hieroglyphic = τὰ ἱερογλυφικά [γράμματα]) adalah sistem tulisan formal yang digunakan masyarakat Mesir kuno yang terdiri dari kombinasi elemen logograf dan alfabet. Hieroglif Mesir merupakan salah satu sistem penulisan paling tua yang dikenal manusia. Beberapa dari tulisan tersebut berasal dari tahun 3000 sebelum masehi dan telah digunakan oleh bangsa Mesir selama lebih dari 3000 tahun. Masyarakat Mesir menggunakan hieroglif kursif untuk sastra keagamaan pada papirus dan kayu. Adapula variasi formal tulisan yang lebih kecil, yang disebut hieratik dan demotik, namun secara teknis tulisan tersebut bukan merupakan hieroglif.

 Bagian dari Papirus Ani menunjukkan hieroglif kursif.

Etimologis

Berdasarkan kamus, arti dari hieroglif adalah tulisan dan abjad Mesir Kuno, yang terdiri atas 700 gambar dan lambang dalam bentuk manusia, hewan, atau benda; dan lambang tulisan (menyerupai gambar paku) yang bersifat rahasia atau teka-teki yang sukar dibaca atau dipahami maknanya.Disebut hieroglif karena ketika orang Yunani pertama kali melihat tulisan itu, mereka yakin bahwa tulisan tersebut merupakan tulisan pendeta yang memiliki makna dan tujuan yang suci. Kata hieroglif berasal dari kata sifat bahasa Yunani yaitu ἱερογλυφικός (hieroglyphikos), gabungan dari ἱερός (hierós ‘keramat’ atau ‘suci’) dan γλύφω (glýphō ‘ukiran’, ‘pahatan’, atau glyphs). Kata glyphs sendiri merujuk pada τὰ ἱερογλυφικὰ γράμματα (tà hieroglyphikà grámmata, ‘kesusastraan ukir pahat’). Kata hieroglyph dalam bahasa Inggris dijadikan kata benda, menggantikan arti kata hieroglif yang sebenarnya. Yang seharusnya seperti dalam kalimat sebelumnya, kata hieroglyphic merupakan sebuah kata sifat, namun sering terjadi kekeliruan dalam penggunaan kata hieroglyph sebagai sebuah kata benda.

Sejarah dan Perkembangannya

Hieroglif sudah muncul dari sebelum kesusastraan tradisi artistik Mesir. Contohnya, simbol pada tembikar Gerzean dari tahun 4000 SM menyerupai penulisan hieroglif. Selama beberapa tahun, prasasti hieroglif yang pertama kali diketahui adalah Narmer Palette, ditemukan dalam penggalian di Hierakonpolis (sekarang Kawm al-Ahmar) pada tahun 1890-an, yang diperkirakan dibuat tahun 3200 SM. Bagaimanapun, pada tahun 1998, tim arkeologis Jerman di bawah pimpinan Günter Dreyer pada penggalian di Abydos (sekarang Umm el-Qa'ab) menemukan sebuah makam dari seorang penguasa Predynastic, dan menemukan tiga ratus pahatan nama dari tanah liat dengan proto-hieroglyphs, tertanggal pada masa Naqada IIIA dari abad ke-33 Sebelum Masehi. Kalimat pertama yang tertulis penuh dengan hieroglif sejauh yang ditemukan adalah kesan segel yang ditemukan di makam Seth-Peribsen yang terletak di Umm el-Qa'ab, tertanggal dari dinasti kedua. Di zaman Kerajaan Tua, Kerajaan Tengah, dan Kerajaan Baru, terdapat sekitar 800 hieroglif. Saat zaman Greco-Roman, mereka menomori lebih dari 5,000 hieroglif. Pada abad keempat, beberapa orang mesir akhirnya dapat membaca hieroglif. Penggunaan hieroglif kemudian berhenti setelah penutupan seluruh gereja non-kristen pada tahun 391 Masehi oleh Kaisar Romawi, Theodosius I; yang tertulis dalam prasasti terakhir dari Philae, diketahui sebagai The Graffito of Esmet-Akhom, tahun 396 Masehi. Penemuan hieroglif yang paling menggemparkan dalam sejarah modern adalah penemuan Batu Rosetta pada sekitar tahun 1799. Orang yang mendapatkan penghargaan dari menafsirkan tulisan tersebut adalah Jean Francois Champollion.
Pada awalnya, orang Mesir menggunakan bentuk gambar tulisan yang kasar, seperti yang digunakan oleh suku-suku primitif di seluruh dunia. Hieroglif adalah gambar yang masing-masing mewakili objek alamiah. Matahari digambarkan sebagai piringan, bulan digambarkan dengan bulan sabit, air digambarkan oleh garis gelombang, orang dengan bentuk orang, dan lain sebagainya. Akan tetapi, tulisan gambar ini tidak dapat mewakili kata-kata atau benda-benda yang tidak dapat dilihat mata seperti pikiran, cahaya, dan hari. Sehingga hieroglif pun lebih dianggap sebagai simbol ide daripada sebuah gambar objek. Piringan dapat juga berarti ‘hari’, bukan hanya berarti matahari. Ide-ide ini disebut dengan ‘ideogram’. Perkembangan hieroglif selanjutnya adalah menggunakan gambar, lebih untuk mewakili bunyi daripada untuk mewakili objek sesungguhnya. Misalnya, sebuah gambar lebah dapat bukan berarti serangga, melainkan merujuk pada kata ‘lebah’. Daun dapat memiliki arti ‘percaya’ (kita gunakan kata dalam Bahasa Indonesia untuk memudahkan dalam menunjukkan bagaimana cara kerjanya). Hieroglif seperti itu, yang digunakan sebagai bunyi, dikenal dengan nama ‘fonogram’. Belakangan, orang Mesir dapat menulis kata apa saja yang mereka kenal, baik kata itu berarti sesuatu yang dapat mereka gambarkan atau tidak. Dari fonogram tersebut mereka mengembangkan satu seri tanda, masing-masing mewakili satu huruf. Dalam penulisan, orang Mesir hanya menggunakan huruf konsonan (huruf mati) saja. Misalnya, kata ‘minum’ hanya akan ditulis ‘mnm’ (tentunya dengan menggunakan tulisan Mesir). Orang Mesir juga terus menggunakan simbol-simbol lama dalam tulisan mereka seperti ideogram, fonogram, dan picturegram (tulisan gambar) semuanya digabungkan. Seiring berjalannya waktu, tulisan tersebut menjadi sangat rumit sehingga tidak mudah dimengerti oleh orang awam.

Sistem Penulisan

Penulisan hieroglif dapat dimulai dari kanan ke kiri, kiri ke kanan, atau dari atas ke bawah dan dari bawah ke atas, tetapi biasanya dimulai dari kanan ke kiri (seperti dalam penulisan Arab, walaupun dalam penulisan formal zaman sekarang ini menggunakan kiri ke kanan).

Jenis hieroglif

Hieroglif terdiri dari tiga macam glyph yaitu phonetic glyphs, termasuk karakter satu konsonan yang berfungsi seperti abjad, logographs; dan semagram (simbol semantik yang menentukan makna), yang membatasi arti dari logographic atau kata-kata fonetis.
Secara visual, keseluruhan hieroglif kurang lebih bersifat kiasan: mereka merepresentasikan elemen yang nyata ataupun ilusional, terkadang menyesuaikan dengan mode dan disederhanakan, tetapi secara umum benar-benar dikenal dalam tanda. Bagaimanapun, simbol atau tanda yang sama, berdasarkan konteksnya, dapat diinterpretasikan dalam bermacam-macam cara yaitu sebagai fonogram (phonetic reading), sebagai logogram, atau sebagai ideogram (semagram; determinative, semantic reading).

Phonetic Reading

Kebanyakan simbol atau bentuk hieroglif merupakan fonetis alam, yang berarti bahwa simbol tersebut dibaca dan dibuat sesuai dengan karakteristik visualnya. Gambar dari mata dapat menjelaskan kata ‘mata’ itu sendiri dan kata ‘saya’ dalam bahasa Inggris (‘eye’ dan ‘I’). Gambar mata itu disebut dengan fonogram dari kata ‘I’. Bentuk fonogram dengan satu konsonan disebut mono- atau tanda uniliteral; dengan dua konsonan, tanda biliteral; dengan tiga konsonan disebut tanda triliteral. Dua puluh empat tanda uniliteral disebut abjad hieroglif. Penulisan hieroglif Mesir normalnya tidak mengindikasikan huruf vokal seperti A, I, U, E, O.

Phonetic Complements

Penulisan Mesir sering kali pleonastis atau berlebihan. Ini sering kali terjadi dalam sebuah kata yang harus diikuti oleh sejumlah karakter penulisan yang memiliki kesamaan pengucapan. Contohnya, kata nfr, yang memiliki arti ‘cantik, baik, sempurna’, ditulis dalam triliteral yang unik.

F35
= nfr
Bagaimanapun, hal ini sangat biasa ditambahkan dalam triliteral, uniliteral untuk f dan r. Kata tersebut dapat ditulis sebagai nfr+f+r namun tetap dibaca dengan nfr. Dua karakter abjad ditambahkan demi kejelasan ejaan dari hieroglif triliteral yang terdahulu. Karakter berlebihan yang mengikuti tanda biliteral atau triliteral disebut phonetic complements atau pelengkap fonetis. Dapat ditempatkan di depan tanda (jarang), setelah tanda (seperti ketentuan umumnya), atau bahkan dikeduanya.

Semantic Reading

Selain interpretasi fonetis, karakter atau simbol-simbol juga dapat dimaknai dengan membaca, dalam hal ini logogram diucapkan (atau ideogram) dan semagram (sering disebut juga dengan determinative).

hieroglif dalam huruf (logogram), sumber: wordpress.com.

Logogram

Hieroglif digunakan sebagai logogram untuk menegaskan suatu objek yang merupakan sebuah gambar. Untuk itu logogram merupakan benda biasa yang sering digunakan. Dalam teori, seluruh hieroglif memiliki kemampuan untuk digunakan sebagai logogram. Logogram dapat ditemani dengan pelengkap fonetis.

Semagram

Determinatives atau semagram (simbol semantik yang menentukan makna) ditempatkan di akhir dari sebuah kata. Karakter ini bertujuan untuk mengklarifikasi tentang apakah sebuah kata itu, seperti homofonik glyphs.


Bacaan fonetik


Hieroglif yang biasa ditulis ketika zaman Yunani-Rom
Kebanyakan aksara hieroglif bersifat fonetik, iaitu aksara itu dibaca tidak mengikut sifat visualnya (mengikut resmi teka-teki rebus yang mana, contohnya, gambar mata boleh melambangkan perkataan Inggeris eye dan I [kata ganti nama pertama]). Maka terrbentuknya fonogram, sama ada satu konsonan (aksara mono- atau uniliteral) dua konsonan (aksara biliteral) mahupun tiga (aksara triliteral). 24 aksara uniliteral membentuk abjad hieroglif lengkap. Tulisan hieroglif Mesir tidak termasuk aksara vokal, oleh itu dianggap sebagai sejenis abjad konsonan, sama dengan abjad Arab.
Daripada itu, tulisan hieroglif yang melambangkan itik disebut dalam bahasa Mesir berbunyi sȝ, iaitu konsonan-konsonan yang membentuk perkataan bagi itik. namun begitu, hieroglif itik ini boleh juga dipakai tanpa kena-mengena dengan maksud asalnya asalkan dapat melambangkan fonem sȝ, tanpa mengira apa-apa bunyi vokal yang mengiringi konsonan-konsonan ini, maka ditulisnya kata-kata berikut: sȝ, "anak lelaki," atau apabila diiringi aksara-aksara yang dibutirkan selanjutnya dalam catatan, sȝ, "simpan, perhati"; dan sȝṯ.w, "tanah kasar". Contoh:
G38
 – aksara sȝ;
G38 Z1s
 – aksara sama yang hanya dipakai mengikut konteks untuk melambangkan "itik", atau "anak lelaki" apabila adanya penentu yang bersesuaian, kedua-dua kata ini sama konsonannya; erti garis mencancang dijelaskan selanjutnya:
z
G38
A A47 D54
 – aksara sȝ dalam kata sȝw, "simpan, perhati"
Sama seperti abjad Arab, bukan semua bunyi vokal ditulis dalam tulisan hieroglif Mesir; adanya pertikaian sama ada wujudnya aksara vokal sama sekali. Mungkin juga macam bahasa Arab, bunyi-bunyi separa vokal /w/ dan /j/ (seperti huruf W dan Y) juga melambangkan nunyi vokal /u/ dan /i/. Dalam transkripsi moden, huruf e dibubuh di antara huruf konsonan untuk memudahkan sebutan. Contohnya, nfr "bagus" biasanya ditulis nefer. Ini tidak mencerminkan bunyi vokal Mesir yang dikaburi peredaran zaman, sebaliknya cuma kebiasaan moden. Begitu juga, fonem ȝ dan ʾ sering ditransliterasi menjadi vokal a.
Tulisan hieroglif ditulis dari kanan ke kiri, kirik ke kanan, ataupun atas ke bawah, tetapi biasanya kanan ke kiri. Pembacanya mesti mengambil kira arah haluan aksara-aksara tak simetri ini agar dapat mengenal pasti urutan pembacaan yang sebetulnya. Contohnya, jika hieroglif manusia dan haiwan menghadap ke arah kanan (iaitu memandang ke arah kanan), maka bacaannya dari kanan ke kiri, begitu juga sebaliknya, maka ideanya adalah aksara hieroglif memandang ke arah permulaan baris.
Begitu juga dengan kebanyakan tulisan purba, kata-kata tidak dipisahkan oleh jarak atau tanda baca. Walaupun begitu, sesetengah aksara hieroglif tertentu selalu muncul di akhir kata, menmudahkan proses membezakan kata-kata.

Membuat Pick Gitarmu Sendiri

1. Pilih ketebalan pick yang sesuai, saya cenderung lebih ke arah kenyamanan dari pada alasan lain. Saya sendiri kurang yakin akan ketebalannya tetapi mungkin tengah tengah antara 0-1 mm.
2. Tentu saja bahan pick adalah Bahan yang biasanya metal atau plastik. Saya pilih bahan plastik karena jika terbuat dari metal takut cepat merusak senar (aus).
3. Berdasarkan ketebelan bahannya yang terbuat dari plastik di sarankan hanya gunakan pick ini untuk gitar akustik saja bukan di gitar listrik, karena bahannya plastik yang mempunyai ketebelan 0-1 mm maka dikhawatirkan pick tersebut bisa patah dan ditambah lagi bunyi yang di hasilkan dari gesekan antara pick dan senar sangat menggangu

Banyak alasan mengapa harus buat sendiri, salah satunya malas pergi keluar untuk beli. Atau untuk menghemat uang kalau pick kita hilang dan harus membelinnya lagi. Tapi yang pasti kita mendukung slogan 3R (Reduce - Reuse - Recycle) untuk bumi kita.

Bahan
  1. Kartu bekas sim card
  2. Cover tempat file/binder

 Alat
    1. Kartu bekas tempat sim card
    2. Gunting
    3. Cutter

Bahan yang akan kita gunakan adalah tempat kartu perdana (sim card) dan cover tempat file/binder, karena bahan plastiknya kuat dan tahan lama tidak cepat habis. Tapi bisa juga menggunakan piringan cd, dvd dan vcd hanya saja bahan terlalu sulit di potong sesuai ukuran.

Jumat, 18 Mei 2012

Rahasia Cara Mesir Kuno Membangun Piramida Agung Giza

1327904604708672394
Gambaran ramp yang diilustrasikan oleh Prof. Davidovits dalam penelitiannya. (image: artslivre.com)
By. Masykur A. Baddal - Piramida Agung Giza adalah salah satu dari tujuh keajaiban dunia kuno, yang hingga saat ini belum ada  tandingannya. Bangunan terbesar yang berbentuk segi tiga itu, mempunyai ketinggian 146m. Diyakini dibangun pada masa kekuasaan Firáun Khufu yaitu pada tahun 2560 SM.
Kontraversi sekitar proses pembangunan Piramida Agung Giza terus berkelanjutan hingga akhir abad ke-19. Dimana, sebagian besar arkeolog dunia tetap berpendapat, bahwa Piramida Agung Giza dibangun dengan konstruksi blok batu granite berjumlah 2.300.000 biji batu yang di ambil dari wilayah Aswan. Setiap blok batu mempunyai bobot 2.5 ton. Proses pembangunannya memakan waktu selama 30 tahun, dengan melibatkan 100.000 orang pekerja.
1327865346323483415
Puncak Piramida Khafre masih menyisakan unsur lumpur/tanah liat (foto: sis.gov.eg)
Bahkan ada yang berspekulasi, bahwa bangunan piramida dibangun oleh UFO dengan mengaitkannya kepada potret piramida di Mars.  Ada juga yang mengidentikkan piramida, berhubungan langsung dengan rasi gugus bintang Orion. Jika ditinjau dari letak katiga piramida Giza, maka Piramida Maya pun diyakini memiliki letak dan posisi yang sama, berdasarkan gugus rasi bintang Orion.
Namun, semua spekulasi sekitar proses dan teknis pembangunan Piramida Agung Giza, pada tahun 1981 seakan terpecahkan. Seorang peneliti berkebangsaan Perancis, Profesor Joseph Davidovits, Direktur Institut Geopolimer Prancis. Secara mengejutkan mengajukan sebuah teori bahwa Piramida Agung Giza dibangun dari unsur tanah liat yang kemudian dibakar menjadi sekeras batu alam.
Profesor Davidovits mengatakan, bahwa tanah liat dan bahan lainnya diambil dari sepanjang Suangai Nil, lalu bahan-bahan ini disatukan dalam sebuah cetakan kayu khusus, dan dapat digunakan berulang kali. Campuran semua unsur tanah liat ini selanjutnya dipanaskan pada suhu tinggi, sehingga menyebabkan komponen-komponen kimiawi dari bahan-bahan tersebut saling berinteraksi dan membentuk sejenis batu, persis seperti batu gunung berapi, yang terbentuk jutaan tahun lalu. Dengan teknis semacam ini, menjadikan semua blok batu memiliki ukuran dan potongan yang sama.
Percobaan yang dilakukan oleh Profesor Davidovits menggunakan Nanoteknologi (cabang teknik yang berhubungan dengan hal-hal kecil dari 100 nanometer) membuktikan adanya sejumlah besar unsur air dalam bebatuan. Jumlah tersebut seharusnya tidak ada, seperti pada batu alam kebanyakan.
13278655142094166494
Ilustras: Proses pengumpulan lumpur/tanah liat di sepanjang sungai Nil (image: waraqat.net)
Tes mikroskop elektronik yang digunakan untuk menganalisis sampel dari batu piramida. Hasilnya, sesuai dengan pendapat Prof. Davidovits, dan kristal kuarsa jelas muncul sebagai hasil dari pemanasan lumpur. Analisis dengan skala Mini E menunjukkan adanya silikon dioksida juga. Sehingga hal ini membuktikan bahwa batu-batu tersebut tidak alami.
Selain itu, dalam bukunya “Ils ont bati les pyramides” (cara membangun piramida) yang diterbitkan tahun 2002, Profesor Davidovits telah menjelaskan semua teka-teki yang selama ini menjadi perdebatan para arkeolog, sekitar cara Piramida Agung Giza dibangun. Selain itu, ia juga mereka ulang mekanisme konstruksi sederhana geometris dari lumpur. Beberapa penelitian menegaskan bahwa tungku atau sejenis kompor telah digunakan pada zaman dahulu untuk membuat keramik dan patung-patung. Secara umum, setelah tanah liat dicampur dengan logam dan bahan alami lainnya, lalu dibakar dengan nyala api, sampai patung itu mengeras menyerupai bentuk batuan nyata.
Pendapat Davidovits juga dipertegas oleh Mario Collepardi, seorang Profesor dari Italia yang mengkhususkan diri pada penelitian arsitektur piramida. Ia meyakini bahwa Firaun menggunakan tepung kapur yang tersedia dalam jumlah melimpah di daerah mereka, dicampur dengan tanah biasa. Kemudian mereka menambahkan air dari sungai Nil dan menyalakan api hingga suhu 900 derajat Celcius. Proses pemanasan ini memberi kekuatan pada batu dan menjadikannya mirip dengan batuan alami.
Adapun proses penyusunan blok-blok tanah liat tersebut sebelum dipanaskan, guna membentuk bangunan piramida. Yaitu dengan membangun lereng (ramp) dari bahan kayu mengelilingi konstruksi piramida, sehingga memudahkan para pekerja melakukan proses pengangkutan bahan baku tanah liat/lumpur ke berbagai ruas bangunan piramida. Sehingga dengan cara ini, tidak diperlukan lagi puluhan ribu pekerja untuk membangun sebuah piramida.
13278658281530246306
Profesor Michel Barsoum dari Drexel University sedang melakukan tes materi di Piramida Giza (foto: waraqat.net)
Selanjutnya pada bulan Desember 2006, sejumlah arkeolog besar dunia seperti, Michel Barsoum, Adrish Ganguly, dan Gilles Hug telah mempublikasikan pendapat mereka di the Journal of the American Ceramic Society, yaitu medukung hasil temuan Profesor Davidovits berkaitan proses pembangunan Piramida Agung Giza. Walaupun ada beberapa arkeolog Mesir lainnya yang belum dapat menerima teori tersebut.
Teknis pembangunan piramida, juga menjadi rahasia Firáun Mesir. Dari jutaan tastamen yang ada, tidak satupun yang menjelaskan sekitar teknis pembangunan Piramida Agung Giza secara detail.
Sehingga dengan temuan teranyar ini, akan membuka mata kita, bahwa teknologi yang digunakan sebenarnya sangat simpel. Akibat kurangnya informasi sekitar detail teknisnya, mendorong setiap arkeolog berspekulasi menurut cara berpikir masing-masing.
1327912426372178914
Skema pembuatan blok batu yang dipaparkan oleh Prof. Davidovits (image: philipcoppens.com)
 
(referensi: wiki, sis.gov.eg, egypt.com.eg, waraqat.net)